Need Interior Recommendation ?
CHAT US NOW !

A Little Nest for Two

Feb 13, 2019

A house is not necessarily a home. Bagi saya dan suami, 'home' adalah dimana kami merasa nyaman; tempat kami beristirahat, hidup berumahtangga, dan menyimpan barang-barang kepemilikan kami. 'Home' adalah dimana kami menjadi diri sendiri dan menunjukkan jati diri kami melalui hunian idaman kami.

Hidup di ibukota yang dapat membuat apartment menjadi solusi hunian yang tepat, terlebih bagi kerluarga muda seperti saya dan suami yang sama-sama pekerja kantoran. Lokasi yang memudahkan perjalanan ke kantor menjadi pilihan utama kami meskipun akhirnya kami harus beradaptasi dengan eksterior yang serba minimalis, seragam, dan kaku. Tanpa kepribadian.

Oleh karena itu, kami memaksmimalkan bagian dalam rumah agar dapat lebih terasa sebagai 'home' untuk kami. Meskipun begitu, karakter saya dan suami yang lumayan jauh berbeda membuat kami harus berkompromi agar tercipta suasana harmonis yang nyaman untuk kami berdua.

Hal yang pertama yang kami impikan saat membuka pintu apartment adalah bisa mengucapkan, "inilah rumahku". Ruangan dalam dengan warna cat yang mencerminkan kehangatan, dipadukan dengan furniture dengan warna-warni yang hamrmonis. Kemudian saat masuk ke dalam disambut dengan sofa yang empuk setelah seharian menghadapi riuh resahnya ibukota. Momen yang paling kami tunggu adalah duduk berdua di meja makan sambil ngobrol dan menikmati makan malam.

Kami sangat quality time di rumah saat weekend. Baik sekedar bersantai ataupun berkarya, buat kami ada kepuasan tersendiri bila kami berada diantara furniture-furniture yang membuat ide-ide atau kemesraan kami mengalir. Ya, bagi kami hunian bukan hanya ruang untuk hidup, tapi juga sumber ketenangan dan inspirasi.

Kualitas menjadi pertimbanagan utama kami dalam memilih perabotan. Investasi untuk perabotan yang dibuat dengan material yang bagus, agar bertahan lama dan tidak mudah rusak. Terutama jika produk-produk tersebut dibuat oleh pengrajin lokal. Suami saya cukup rewel dalam hal ini.

Faktor lainnya adalah desain. Desain yang timeless tak hanya elok dipandang, tetapi juga berkelas. Inilah sering menjadi perdebatan antara saya dan suami, namun selalu diakhiri dengan membeli barang yang kami sepakati berdua.

Suami yang penikmat alam lebih menyukai interior yang minimalis, natural dan earthy-tone, sedangkan saya yang pekerja kreatif dan penggemar handycraft cenderung untuk memilih perabotan dan dekor yang trendy dan estetik, namun homey.

Pada akhirnya, furniture dan dekor pilihan kami bersama umumnya simple, chic, dan berwarna soft. Dekor handmade seperti keranjang rotan atau produk macramé membuat ruang tinggal kami jadi lebih hidup. Karpet yang halus serta bantal-bantal empuk menjadi andalan untuk membuat pojok membaca dan living room menjadi sangat cozy. Perabotan kayu seperti lemari dan meja dengan perpaduan warna natural disertai dengan desain yang dinamis menjadikannya tak hanya fungsional namun juga dekoratif. Walau tak meriah, namun tetap menunjukkan ciri khas kami berdua.

Seperti kata pepatah, 'home is where the heart is'. Dengan sepenuh hati kami mengisinya, dengan sepenuh hati juga kami tinggal di dalamnya. Dalam pencarian untuk semakin melengkapi interior kami, salah satu brand yang menarik minat kami adalah Nestudio, sebuah perusahaan furnitur lokal yang baru saja di-launch awal September lalu. Lini terbarunya menawarkan meja, kursi, lemari dan berbagai home accessories yang stylish, berkualitas baik, elegan, dan berwarna soft dengan detailing yang apik; cocok untuk hunian kaum milenial urban. Konsepnya, 'a nest is more than just a house' pun sejalan dengan kami yang sedang membangun 'sarang' kehidupan kami berdua untuk masa depan. Dengan produknya yang dikaryakan secara domestic dan kemudahan berbelanja via e-commerce ternama Blibli.com, Nestudio semakin mencari hati untuk jadi pilihan berikutnya dan seterusnya.

Annisa Laksmintari - High End Magazine